sejarah kaset bajakan hingga live stream
cara kita mengonsumsi kerumunan dari jauh
Pernahkah kita memutar sebuah rekaman konser langsung dari masa lalu? Mungkin lewat kaset pita bajakan berlabel bootleg yang dibeli diam-diam di pinggir jalan pada era 90-an. Jika kita perhatikan, kualitas audionya sering kali sangat buruk. Suara gitarnya mendem, vokal penyanyinya tenggelam, dan yang paling mendominasi justru suara teriakan penonton di sebelah si perekam. Namun anehnya, rekaman bocor semacam itu laris manis pada zamannya. Kenapa kita rela mendengarkan audio berkualitas rendah hanya demi mendengar orang lain berteriak menyanyikan lagu yang sama? Mari kita simpan pertanyaan ini sebentar. Ada sebuah benang merah psikologis yang aneh antara kaset bajakan zaman dulu dengan kebiasaan kita hari ini.
Coba kita percepat waktu ke masa kini. Hari ini, lapak kaset pinggir jalan itu sudah bermutasi menjadi layar-layar bercahaya di kamar kita. Kita masuk ke era live stream. Ribuan, bahkan jutaan dari kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam menatap seseorang bermain game, makan mie instan, atau sekadar mengobrol di depan kamera. Kita membaca live chat yang bergulir terlalu cepat untuk dipahami satu per satu. Sejarah berulang dengan medium yang berbeda. Dari audio buram kaset pita hingga piksel-piksel di YouTube atau Twitch, kita sebenarnya sedang melakukan satu hal yang konsisten. Kita sedang berusaha mengonsumsi kerumunan dari kejauhan. Kita ingin merasakan energi orang banyak, tapi kita memilih untuk tetap duduk nyaman sendirian di kamar. Mengapa otak kita menginginkan dua hal yang saling bertentangan ini secara bersamaan?
Untuk menjawabnya, kita harus meminjam kacamata biologi evolusioner. Teman-teman, otak yang ada di dalam tengkorak kita hari ini adalah perangkat keras purba. Otak ini berevolusi di sabana Afrika ratusan ribu tahun lalu. Bagi nenek moyang kita, berada di dalam kerumunan atau kelompok adalah masalah hidup dan mati. Terisolasi berarti dimangsa predator. Jadi, otak kita memprogram sebuah sistem penghargaan. Setiap kali kita merasa terhubung dengan kelompok, otak melepaskan dopamin, bahan kimia yang membuat kita merasa bahagia dan aman.
Namun, ada masalah. Berada di dalam kerumunan fisik yang sesungguhnya itu sangat menguras energi. Kita harus membaca ekspresi wajah, menjaga postur, dan waspada terhadap ancaman sosial. Otak kita benci membakar kalori yang tidak perlu. Di sinilah biologi kita bermain trik lewat apa yang disebut para ahli saraf sebagai mirror neuron atau sel saraf cermin. Sel-sel ini aktif tidak hanya saat kita melakukan sesuatu, tapi juga saat kita melihat atau mendengar orang lain melakukannya. Saat kita mendengar gemuruh penonton di kaset bajakan, atau melihat reaksi ribuan emoticon di live chat, sel saraf cermin kita menyala. Otak kita ditipu agar percaya bahwa kita sedang berada tepat di tengah-tengah suku kita, bernyanyi bersama, tertawa bersama.
Inilah rahasia besarnya. Selama puluhan tahun, evolusi teknologi media sebenarnya diarahkan untuk meretas sistem dopamin purba tersebut. Saat kita menonton live stream dan membaca kolom komentar yang bergerak bagai air bah, kita sama sekali tidak sedang mengonsumsi videonya. Kita sedang mengonsumsi kerumunannya.
Kita berhasil menemukan cheat code biologis. Melalui kaset konser bootleg hingga live streaming, kita mendapatkan semua hadiah kimiawi dari sebuah interaksi sosial (rasa aman, rasa memiliki, kegembiraan komunal) tanpa harus membayar "pajak" sosialnya. Kita tidak perlu mandi, tidak perlu berdandan, tidak perlu cemas memikirkan basa-basi dengan orang asing. Kita bisa merasakan ekstasi berada di tengah stadion yang penuh sesak, sambil tetap memakai piyama dan memeluk bantal guling di atas kasur. Ini adalah bentuk parasocial relationship tingkat tinggi, di mana kita bukan cuma merasa berteman dengan si penyiar, tapi kita juga merasa menjadi bagian dari suku yang sedang menontonnya.
Mungkin ada yang berpikir, apakah ini membuat kita menjadi generasi yang anti-sosial? Saya rasa tidak. Fakta bahwa kita terus menciptakan teknologi untuk membawa keramaian ke dalam kamar yang sepi justru membuktikan satu hal yang indah. Membuktikan bahwa seberapa pun modernnya kita, kita tetaplah primata yang haus akan kehangatan sesama.
Kita mencari api unggun virtual kita masing-masing. Terkadang api unggun itu berupa kaset pita bajakan Nirvana di tahun 90-an, dan terkadang berupa siaran langsung seseorang yang merakit LEGO di ujung dunia yang lain. Jadi, jika malam ini teman-teman mendapati diri sedang tersenyum sendirian membaca live chat yang bergerak cepat di layar ponsel, tidak perlu merasa aneh atau kesepian. Otak purba kita hanya sedang melakukan apa yang paling dikuasainya: mencari kawan, memastikan kita aman, dan meyakinkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di alam semesta ini.